Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan

06/08/15

IMF Menantang James Bond



Awal saya tahu Christopher McQuarrie dari film The Usual Suspects yang berhasil mengantarkannya memperoleh Oscar untuk penulis naskah terbaik. Bersama Bryan Singer, mereka mengakhiri film dengan adegan sensional. Kini dia mengambil peran lebih dengan menjadi sutradara, dan Mission: Impossible 5 – Rogue Nation adalah film ketiganya.
Dalam seri Mission Impossible (M:I) sebelumnya, Brad Bird, sang sutradara, yang lebih dikenal sebagai orang di balik layar suksesnya film animasi (The Incredibles, Ratatouille) berhasil menjadikan Ghost Protocol sebagai M:I terbaik. Tugas McQuaire membuat Mission Impossible 5 lebih baik dari pendahulunya tentu tidak mudah. Tapi, siapa sangka M:I langsung melejit ke puncak box office dengan pendapatan sekitar US$ 56 juta.



Meski jarak tayangnya berjauhan, M:I 5 dan Spectre diputar pada tahun yang sama, dan bisa jadi ‘peraingan’ antara IMF dan James Bond dimulai di sini. Dan sebagaimana kita tahu, baik M:I 4 maupun Skyfall merupakan yang terbaik dari seri sebelumnya. Apalagi, jalan cerita M:I terbaru melibatkan agen rahasia antar negara; antara IMF dan MI6 (agen rahasia Inggris, tempat James Bond bernaung). Tapi, dengan Sam Mendes yang masih dipercaya sebagai nakhoda, tampaknya James Bond masih bisa mengungguli IMF.
Namun di sisi lain, bagi penggemar IMF maupun James Bond pastinya akan dihadapkan pada pilihan subjektif, tentang agen mana yang lebih disukai. MeskipunIMF merupakan sebuah tim, tetap saja sosok yang paling menonjol adalah Ethan Hunt, sehingga ini bisa jadi pertarungan siapa lebih cerdas, lebih tampan, lebih memesona, dan lebih terampil berkelahi. Tapi, setidaknya ada dua hal yang tidak dipunyai Ethan Hunt dalam hal ini, yaitu mobil canggih dan perempuan. Ya, sejak M:I 3, Ethan Hunt masih setia pada istrinya.

05/08/15

Mission: Impossible 5 - Rogue Nation Review



Ada benang merah cerita sejak pertama kali Mission Impossible (M:I) diluncurkan: semuanya berkisah tentang fitnah terhadap Ethan atau IMF (Impossible Mission Force). Dan itu semakin terasa dalam M:I 4 ketika Ghost Protocol diberlakukan dan Ethan Hunt kembali menjadi buruan. M:I 5 menawarkan cerita yang kurang lebih sama saat IMF menjadi pihak yang disalahkan, tapi sepertinya Tom Cruise sebagai produser menyadari dengan memberikan nafas segar kepada IMF di akhir cerita, sehingga kemungkinan kelanjutan di MI 6  tidak akan lagi berkisah di seputar IMF atau Ethan Hunt sebagai korban.

M:I 5 masih berkaitan dengan seri sebelumnya dimana IMF menjadi pihak tertuduh dalam pengeboman Kremlin. IMF dibekukan dan seluruh anggotanya bergabung dengan CIA, kecuali Ethan (Tom Cruise) dan Luther (Ving Rhames). Tentu aja kejadian ini menjadi dilema bagi Ethan yang sedang mengungkap Organisasi Bayangan (Shadow Organization) atau The Syndicate. The Syndicate terdiri dari mantan para agen rahasia dunia yang bertanggung jawab atas kasus-kasus kecelakaan besar di dunia termasuk kecelakaan pesawat di Jakarta yang menewaskan pejabat Sekretaris Bank Dunia. Dan merujuk pada judulnya, organisasi inilah yang dimaksud dengan Rogue Nation (Benji (Simon Pegg) menyebutnya sebagai Anti-IMF karena mereka mengetahui semua gerak-gerik IMF dan membunuh salah satu agennya). Ethan yang kesulitan mengetahui keberadaan Solomon Lane, pimpinan The Syndicate, sebenarnya sangat terbantu dengan hadirnya agen Inggris bernama Ilsa Faust (Rebecca Ferguson) yang sedang menyamar. Tapi rupanya agen tersebut memanfaatkan Ethan untuk mendapatkan flash disk berisi data lengkap tentang The Syndicate.
Mengikuti alur ceritanya seolah kita sedang memasang potongan-potongan teka-teki sederhana namun tidak mudah untuk ditebak. M:I 5 memiliki aksi ketegangan yang lebih bervariasi dan merata, alias tidak terpusat pada satu adegan seperti memanjat gedung Burj Khalifa dalam M:I 4. Lelucon khas Benji pun masih dipertahankan dan cukup berhasil membuat penonton tertawa. Namun sayangnya kali ini Brandt (Jeremy Renner) tidak banyak beraksi seperti dalam M:I 4. 
Dan pada akhirnya ada perbedaan paling mencolok dari keempat film M:I sebelumnya atau bahkan film-film agensi lainnya; di sini M:I 5 mengajarkan bahwa penyelesaian masalah tidak harus diakhiri dengan pertarungan satu lawan satu.



10/07/15

Silicon Valley 1 - 2 (A Cap Table)



Inilah episode dimana Richard menentukan arah bisnis Pied Piper setelah mendapat pendanaan dari Peter Gregory.
Kisah dimulai ketika mereka akan mengadakan pesta peluncuran, mereka kedatangan Jared dengan sampanyenya yang bermaksud untuk memberikan selamat. Jared terkesan kepada Richard yang dengan idealis menolak $10 juta dari Hooli hanya untuk membangun Pied Piper. Sebagaimana kita tahu Jared adalah seorang karyawan Hooli dan karena itulah Eirlich menolaknya ikut bergabung dengan pesta mereka.
Keesokannya Richard dan Eirlich datang ke kantor Peter Gregory untuk meminta pendanaan yang dijanjikan, yaitu sebesar $200 ribu untuk 5% kepemilikan. Tapi apa yang terjadi? Mereka gelagapan saat Peter menanyakan business plan mereka, tabel kapitalisasi, surat investasi, dsb. Mereka tidak menyangka akan demikian karena mereka pikir Peter akan begitu saja memberikan cek. Peter memberikan waktu 48 jam kepada mereka untuk kembali dengan business plan atau tidak ada perjanjian sama sekali. Bagi Richard 48 jam bukanlah waktu yang lama, dan satu-satunya nama yang ada dalam kepalanya untuk membuat rencana bisnis adalah Jared Dunn. Dan gayung pun bersambut: Jared setuju bergabung dengan Pied Piper.
Eirlich dan Richard menemui investor tanpa business plan

Di tempat lain, Gavin Belson sang CEO Hooli tampak kesal dengan keluarnya Jared dari perusahaan. Dia mencoba menenangkan diri dengan berkonsultasi kepada guru spiritualnya.
Di luar sikapnya yang kaku, Jared memang punya kompetensi dan potensi untuk mengembangkan bisnis Pied Piper, dan dia bahkan tahu karakter dari Peter Gregory. Bersama Richards dia mencoba menyeleksi tim yang sudah ada dan ingin tahu peran masing-masing dalam perusahaan.
Gilfoye menjadi yang pertama. Dia seorang arsitektur sistim jaringan dan keamanan, dan tidak ada yang bisa mengganggunya dari posisi itu. Selanjutnya, Dinesh sang programer, satu-satunya yang menguasai java di tempat itu dan program rumit lainnya. Lalu terakhir: Big Head, dia satu-satunya yang tidak punya peran penting dalam tim.
Big Head merupakan sahabat baik Richard dan ketiga teman lainnya, tapi Peter Gregory hanya ingin tim yang ramping. Lagipula apa yang bisa diberikan pemuda polos seperti Big Head. Dia tidak punya keahlian apa-apa kecuali hanya persahabatan. Bagi Richard, mengeluarkan Big Head memang sebuah keputusan yang berat dan dia sangat tidak tega. Tapi sebelum keputusan resmi dikeluarkan terkait nasib Big Head, Big Head sudah terlanjur mendengar diskusi Gilfoye, Dinesh dan Eirlich tentang dirinya. “ Big Head adalah pria tanpa tujuan,” kata Dinesh. Jadi, Big Head sudah tahu nasib dirinya dan Richard tidak perlu repot-repot bicara empat mata dengannya.
Sesi interview (kredit: startup-book.com)

Richard merasa bersalah, seharusnya dia bisa menyelamatkan Big Head. Tapi kini nasi sudah menjadi bubur; Big Head sudah meninggalkan rumah. Usaha temannya untuk tidak terlalu mengkhawatirkannya tidak berhasil. Richard malah semain cemas kalau hal yang buruk akan menimpa sahabat baiknya. Dia akan mencarinya, tapi sayangnya tidak ada yang tahu kemana Big Head pergi, kecuali aplikasi Nipple Alert yang tiba-tiba menyala. Nipple Alert merupakan aplikasi semacam GPS penanda ada perempuan dengan dada mengeras. Richard tahu, satu-satunya tempat yang Big Head tuju adalah rumah seorang penari yang pernah datang ke pesta peluncuran Pied Piper.
Ketika mereka bertemu, Big Head sadar bahwa dirinya memang tidak diperlukan sehingga dia meminta Richard untuk tidak menyuruhnya kembali. Richard akhirnya menerima keputusan yang diambil Big Head. Meski demikian, sebagai seorang pemimpin keputusan yang diambil selalu dipengaruhi oleh ketiga temannya dan itulah kelemahan dirinya yang tidak bisa tegas. Dan ketika kembali ke rumah dia mengutarakan keinginannya untuk meminta Big Head kembali. Tentu saja pernyataan ini membuat yang lainnya bingung. Richard bahkan harus segera memutuskan apakah Big Head akan dimasukkan kedalam rencana bisnis atau tidak. Begitu pun dengan Eirlich yang tidak ingin sahabatnya jadi plin-plan mengatakan padanya perlunya bertindak tegas. Richard sedikit pusing, tapi dia sepertinya beruntung ketika tiba-tiba pintu terbuka dan tampak Big Head di hadapan mereka sehingga dia bisa mengatakan langsung di depan Big Head layaknya seorang pemimpin sejati. Dia berkata: “Big Head tetap tinggal!”
Tapi apa yang dikatakan Big Head sungguh mengejutkan. Dia bilang Galvin Belson baru menawarkannya promosi dengan gaji $600 ribu/tahun dan sekaligus sebagai kompensasi karena Pied Piper sudah mengambil Jared darinya. Ya, Richard mungkin terkejut, tapi setidaknya dia tidak akan pernah merasa bersalah lagi.


11/05/15

Silicon Valley (TV Series) 1/1

Saya sepertinya telat untuk membahas serial TV ini. Silicon Valley saat ini tengah memasuki musim keduanya sejak tayang pertama kali setahun lalu. Film yang diproduksi HBO ini cukup mampu membuat saya tertawa dan tidak bisa menahan untuk berbagi cerita dengan kamu. Buat kamu yang sudah nonton, please, jangan kasih tahu spoiler-nya. Biar saya saja yang membocorkannya.

Minimum Viable Product
Adalah Richard Hendricks (Thomas Middleditch) pemuda yang mirip Jesse Eissenberg atau dalam artian lain Mark Zuckerberg, pria pemalu mantan karyawan Hooli yang sedang mengembangkan sebuah aplikasi musik bernama ‘Pied Piper’ di sebuah inkubator bersama beberapa rekan lainnya (Big Head, Dinesh, dan Gilfoyle) yang juga sedang mengerjakan proyek masing-masing.  Mereka bekerja di bawah pengawasan sang pemilik inkubator, Erlich (T.J. Miller) yang menjengkelkan dan selalu merepresentasikan dirinya sebagai Steve Jobs.
“Kalau kau ingin tinggal di sini, kau menghasilkan,” kata Erlich kepada Richard. Dia memakai kaus hijau bertuliskan I Know H.T.M.L (How to Meet Ladies).  Lebih lanjut di berkata bahwa Pied Piper milik Richard tidak punya prospek dan membingungkan pengguna. Richard seharusnya mencontoh program yang dibuat Big Head dengan ‘NipAlert’ (aplikasi yang menunjukkan lokasi puting mengeras).
Ketika Richard dan Big Head (Josh Brener) kembali ke Hooli, sebuah perusahaan teknologi raksasa di Silicon Valley milih Gavin Belson (Matt Ross), mereka bertemu dua orang Brogrammers (programer Hooli) yang kemudian mengolok-olok Pied Pipers sebagai Pied Wiper dan Wide Diaper. Lalu pada malam harinya mereka berkesempatan menemui Peter Gregory, pemilik perusahaan IT raksasa lainnya, dan menyampaikan tentang Pied Piper. Tapi tampaknya Peter tidak tertarik dengan aplikasi tersebut.
Namun siapa sangka, dua Brogrammers Hooli tadi ternyata kagum cara Richard mengkompres file musik lebih kecil tanpa mengurangi kualitas, tentang kecepatan pencarian dan kecocokannya dengan musik lainnya. Jared Dunn (Zach Woods), karyawan Hooli lainnya, yang juga ikut menyaksikan kehebatan Pied Piper memberi tahu Gavin tentang potensi aplikasi tersebut. Ketika Gavin menawarkan Richard sejumlah uang, Erlich datang dan mengatakan dia berhak mendapatkan 10% karena Richard bekerja di tempatnya. Tawar menawar semakin menarik saat Peter Gregory menelpon Richard dan menawarkan US$ 200 ribu untuk mendanai proyeknya dengan kepemilikan 95% masih dipegang Richard. Tentu saja dua tawaran yang menggiurkan membuat Richard bingung. Di sisi lain Gavin sudah sampai pada nilai US$ 10 juta namun mengambil alih semua kepemilikannya.
Pada akhirnya, setelah konsultasi dengan dokter dan bujukan Monica (stafnya Gregory), Richard memilih bergabung dengan Gregory. Dia memilih untuk membesarkan sendiri perusahaannya dan memulai petualangan bisnisnya bersama ketiga rekannya.
"Look, guys, for thousands of years, guys like us gave gotten the shit kicked out of us. But now, for the first time, we're living in an era, where we can be in charge and build empires. We could be the vikings of our day." (Dengar, Kawan, selama ribuan tahu, orang seperti kita selalu ditendang. Tapi sekarang, untuk pertama kalinya kita hidup di era, di mana kita bisa berkuasa dan membangun kerajaan. Kita bisa jadi viking di zaman kita). -- Richard --


10/05/15

Maggie: Dramatisasi Zombie



Maggie merupakan film debutan dari sang sutradara, Henry Hobson, yang lebih dikenal dengan pekerjaannya sebagai designer. Tidak seperti kebanyakan film zombie yang banyak letusan tembakan, teror-teror mayat berjalan, maupun ledakan di kepala, Maggie menawarkan sesuatu yang berbeda. Barangkali dari latar belakang Hobson-lah yang membuat film ini dipenuhi gambar dan adegan dramatis. Dari sosok Arnold Schwarzenegger, meskipun masih terlihat garang, lebih menonjolkan kemuraman dan kecemasan seorang ayah baik. Seting pertanian dan kota yang sepi dengan latar gelap menjadi objek yang pas buat Hobson untuk berkreasi.
Film ini tidak menawarkan sesuatu yang mengejutkan, masih seputar wabah penyakit dan bencana dunia. Di awal kisah kita akan bertemu Wade (Schwarzenegger) yang berusaha mencari putrinya, Maggie (Abigail Breslin), yang kabur dari rumah setelah digigit pengidap. Banyak orang berubah menjadi kanibal karena virus necro-ambulists ini. Sekali terinfeksi, korban punya waktu sekitar 6-8 minggu untuk berubah jadi mayat berjalan.
Wade menemukan Maggie di rumah sakit dan membawanya pulang. Karena kecintaan pada istri pertamanya yang sudah meninggal, dia bertekad merawat Maggie di rumahnya. Jadi, dia mengirim dua anak lainnya dari istri keduanya, Bobby dan Molly, ke rumah bibi mereka. Tapi menjaga Maggie ternyata tidak mudah bagi Caroline (Joely Richardson), istri kedua Wade, yang penuh kecemasan kalau-kalau Maggie akan berubah sehingga dia pun memutuskan untuk meninggalkan mereka.
Dalam rentang waktu menunggu perubahan itu, tubuh Maggie mengalami perubahan; garis urat menjadi hitam, mata memutih dan muncul belatung di luka bekas gigitan. Polisi yang bersimpati pada Wade pun memaksa Wade untuk menyerahkan Maggie supaya bisa dibawa ke karantina. Tapi Wade tetap pada pendiriannya untuk menjaga Maggie.
Hingga pada suatu hari Maggie kehilangan kontrol atas dirinya, alih-alih menyelamatkan rubah yang terperangkap dia malah memakannya. Dan ketika menyedari puncak dari perubahannya telah tiba, Maggie mengambil tindakan yang terbaik untuk dirinya dan sang ayah.